Universitas PTIQ Jakarta, 5–6 Februari 2026 — Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan bercerita (storytelling) menjadi keterampilan krusial yang membedakan konten yang tenggelam dengan yang berdampak. Menyadari hal ini, Himpunan Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (Himakopi) Universitas PTIQ Jakarta berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Timur (HIPMAT) menyelenggarakan Workshop of Narrative selama dua hari bertema “The Power of Narrative: Strategi Storytelling dalam Pembuatan Film Pendek dan Konten Digital yang Berdampak”. Menghadirkan Arie Kriting komika, penulis, aktor, dan sutradara sebagai narasumber, acara ini diikuti 70 peserta terpilih (50 orang hari pertama, 20 orang hari kedua) demi menjaga kualitas interaksi.
Dibuka langsung oleh Ketua Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam UPTIQ Achmad Fachrudin, workshop ini tidak hanya menjadi ruang transfer ilmu teknis, tetapi juga “provokasi” halus bagi mahasiswa untuk berani menjadi content creator andal yang mampu menyampaikan nilai-nilai Islam secara kreatif dan relevan.
Hari Pertama: Narasi sebagai Jembatan Realitas dan Dunia Digital
Arie Kriting membuka sesi dengan mengingatkan peserta pada konteks historis: era digital merupakan bagian dari revolusi industri ketiga yang secara signifikan menggeser pusat gravitasi ekonomi dari sektor manufaktur ke konten kreatif.
“Bidang komunikasi adalah yang paling dinamis dalam perkembangan teknologi digital,” tegasnya.
Bagi mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam, pergeseran ini bukan sekadar tantangan teknis melainkan peluang dakwah kontemporer yang harus direspons dengan kompetensi naratif yang kuat.

Ia menjelaskan bahwa konten digital sebagai data atau informasi yang dikemas secara elektronik—memiliki tiga fungsi utama: edukasi, hiburan, dan pemasaran. Namun, ketiganya hanya akan efektif jika dikemas dalam narasi yang menarik.
“Narasi membuat informasi yang kering menjadi hidup. Cara kita mengemas data ke dalam skema bercerita akan membuat audiens lebih mudah mencerna pesan yang kita sampaikan,” ujarnya sembari memberikan analogi sederhana: 1 + 1 = 2 menjadi lebih bermakna ketika dikemas dalam alur cerita yang menyentuh emosi.
Untuk membangun narasi yang efektif, Arie menekankan lima pilar yang harus diperhatikan:
- Details: Pemahaman mendalam terhadap materi yang akan disampaikan
- Goals: Penentuan tujuan yang jelas dan terukur
- Audience: Pemahaman karakteristik penonton yang disasar
- Platform: Pemilihan medium digital yang sesuai karakteristik audiens
- Concept: Perumusan konsep yang ideal dan konsisten
Ia juga menjelaskan bahwa setiap platform digital—TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, Threads/X—memiliki karakteristik audiens dan pola konsumsi yang berbeda.
“Narasi untuk TikTok tidak bisa disalin mentah-mentah ke YouTube. Kita harus menyesuaikan ritme, durasi, dan pendekatan emosional sesuai platform,” tambahnya.
Lebih jauh, Arie membedakan dua jenis struktur narasi:
- Struktur Narasi Dasar: pengenalan karakter → pengenalan masalah → pengambilan keputusan/solusi → hasil/resolusi
- Struktur Narasi Dramatis: pengenalan karakter → pengenalan masalah → pengambilan keputusan keliru → permasalahan memburuk → upaya maksimal → hasil akhir
Untuk memperkuat daya tarik narasi, ia memperkenalkan tiga teknik dramatis yang terbukti efektif:
- Dilemma: Menempatkan karakter pada pilihan sulit yang sama-sama berat (“Mau berkarya, tapi masih fokus studi…”)
- Urgensi: Memberi penekanan agar audiens segera menyimak (“JANGAN DULU PUASA, SEBELUM TAHU HAL INI”)
- Kontradiksi: Memicu rasa penasaran melalui pertentangan logika (“MAU JADI POLITISI TAPI TIDAK MAU MASUK NERAKA?”)
Arie juga menegaskan perbedaan mendasar antara konten audio visual dan film. Konten audio-visual mengedepankan efektivitas penyampaian informasi cepat, ringkas, langsung ke inti. Sementara film lebih menitikberatkan pada perasaan yang ingin dicapai melalui materi yang disajikan.
“Film adalah medium tertinggi seni narasi karena menggabungkan gambar, suara, musik, akting, dan berbagai elemen lain dalam satu kesatuan emosional yang utuh,” paparnya.
