Hari Kedua: Dari Premise Sederhana hingga Filosofi Kreatif
Hari kedua berfokus pada praktik langsung: menyusun premise—konsep dasar cerita yang menjadi fondasi seluruh narasi. Arie mengajak peserta berani mengangkat konflik sederhana yang dekat dengan realitas sehari-hari, namun memiliki potensi emosional yang kuat. Beberapa ide menarik yang muncul dari peserta mencerminkan kepekaan terhadap dinamika sosial dan spiritual:
- Seorang anak gagap yang bercita-cita menjadi muadzin
- Robot yang ingin menjadi manusia, tetapi penciptanya meninggal sebelum proses selesai meninggalkan pertanyaan identitas: mau disebut robot atau manusia?
- Seorang anak non-Muslim yang tertarik pada tilawah setelah mengantar temannya ke lomba
“Kalau bikin premise, buat sesederhana mungkin. Biar nggak linglung pas mau nulis ceritanya,” pesan Arie yang disambut anggukan peserta.

Kesederhanaan, menurutnya, justru menjadi kekuatan: premise yang rumit cenderung membuat penulis kehilangan fokus di tengah proses kreatif. Dalam sesi tanya jawab, peserta HIPMAT mengajukan pertanyaan kritis:
“Bagaimana menerapkan formula narasi tanpa terjebak pada urutan kaku?”
Arie menjawab bahwa formula hanyalah panduan, bukan dogma.
“Formula itu seperti peta berguna untuk orientasi, tapi kita tetap bebas menjelajah medan sesuai kebutuhan cerita. Yang penting, kita paham prinsip di balik formula tersebut.”
Ia juga membagikan filosofi kreatif yang menggugah:
“Orang yang tidak bisa dikalahkan ialah orang yang tidak bertanding.”
Pesan ini mengajak mahasiswa tidak terjebak dalam persaingan sempit mengikuti tren, melainkan berani menciptakan ruang kreatif sendiri yang otentik dan berakar pada nilai-nilai yang diyakini.
Bagi mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam, workshop ini memiliki makna ganda. Pertama, sebagai bekal teknis untuk bersaing di industri kreatif digital yang semakin kompetitif. Kedua dan yang lebih penting sebagai amanah dakwah kontemporer. Di era di mana perhatian audiens menjadi komoditas langka, kemampuan menyampaikan nilai-nilai Islam melalui narasi yang menarik, relevan, dan tidak menggurui menjadi keterampilan strategis.
Kolaborasi antara Himakopi dan HIPMAT juga menunjukkan kekuatan sinergi lintas himpunan. Perbedaan latar belakang justru memperkaya perspektif dalam proses kreatif terlihat dari keberagaman premise yang dihasilkan peserta. Sinergi semacam ini menjadi model kolaborasi yang layak ditiru di lingkungan kampus.
Workshop of Narrative telah usai, tetapi gelombang kreativitas yang ditaburkan diharapkan terus bergulir dalam karya-karya nyata mahasiswa PTIQ Jakarta. Dari premise sederhana tentang anak gagap yang ingin jadi muadzin hingga filosofi “tidak bertanding”, setiap sesi mengingatkan kita pada satu hal: bercerita yang baik bukan tentang teknik sempurna, melainkan keberanian menyampaikan kebenaran melalui lensa kemanusiaan yang universal.
Di tengah hiruk-pikuk konten digital yang seringkali dangkal, narasi yang berakar pada nilai, dikemas dengan kepekaan, dan disampaikan dengan kejujuranitulah yang akan bertahan dan menyentuh hati.
— By Muh Fauzan Akbar
